Tubuh manusia mempunyai berbagai cara untuk melakukan proteksi. Pertahanan pertama adalah barrier mekanik, seperti kulit yang menutupi permukaan tubuh. Kulit termasuk lapisan epidermis, stratum korneum, keratinosit dan lapisan basal bersifat sebagai barrier yang penting, mencegah mikroorganisme dn agen perusak potensial lain masuk ke dalam jaringan yang lebih dalam. Misalnya asam laktat dan substansi lain dalam keringat mengatur pH permukaan epidermis dalam suasana asam yang membantu mencegah kolonisasi oleh bakteri dan organisme lain.
Kulit terdiri dari tiga
lapisan utama yaitu ; Epidermis (lapisan bagian luar tipis), Dermis (lapisan
Tengah), Hipodermis (bagian paling dalam). Lapisan epidermis tebalnya relative,
bervariasi dari 75-150, kecuali pada telapak tangan dan kaki lebih tebal.
Terdiri dari stratum korneum dan lapisan malpighi, terdapat desmosome,
melanosit dan lain-lain. Ketebalan dermis bervariasi di berbagai tempat tubuh, biasanya
1-4mm. Dermis merupakan jaringan metabolic aktif, mengandung kolagen, elastin,
sel saraf, pembuluh darah dan jaringan limfatik. Juga terdapat kelenjer ekrin,
apokrin, sebaseus di samping folikel rambut. Sedangkan hypodermis terletak di
bawah dermis, terdiri dari jaringan ikat dan lemak (Oh, J. H., & Kwak, N.,
2013)
Kulit merupakan organ
tubuh terbesar pada manusia yang memilki fungsi proteksi. Pada manusia dewasa
dengan berat 70kg, berat kulit mencapai 5kg dan melapisi seluruh permukaan
tubuh seluas 2 m2 (McGrath, 2010: 3.1). Kulit memilki fungsi skin
barrier fisik, perlindungan terhadap agen infeksius, termoregulasi, sensasi,
proteksi terhadapa sinar ultraviolet (UV), serta regenerasi dan penyembuhan
luka.
Infeksi kulit merupakan
gangguan pada kulit yang salah satunya dapat disebabkan oleh bakteri, virus,
jamur, atau parasite. Infeksi kulit umunya ditandai dengan bercak kemerahan,
bentol, gatal-gatal, maupun nyeri. Infeksi kulit umunya terjadi Ketika kondisi
kulit sedang tidak baik, misalnya kering, pecah-pecah, atau teruka. Kondisi ini
juga lebih sering dialami oleh orang dengan daya tahan tubuh lemah, misalnya
karena menderita diabetes atau AIDS, menjalani terapi atau menggunakan obat kortikosteroid
dalam jangka panjang (Cipto, 2016).
Diagnosis infeksi kulit
itu sendiri merupakan salah satu cabang dari bidang kesehatan yang digunakan
untuk mendeteksi adanya kelainan pada kulit. Pada ciitra dermoscopy (kanker
kulit), warna merupakan fitur dengan banyak informasi untuk mengenali kanker
kulit yang diderita oleh pasien. Seiring perkembangan teknologi penelitian
menunjukkan perlu adanya otomatisasi untuk mendeteksi kanker kulit melalui
citra dermoscopy (Iyotami, Celebi, Schaefer, & Tanaka, 2011).
Infeksi bakteri pada
kulit dapat disebabkan oleh kuman positif gram seperti Staphylococcus sp, dan
Streptococcus sp., maupun kuman negatif gram seperti Pseudomonas aeruginosa,
Proteus vulgaris, Proteus mirabilis, Escherichia coli dan Klebsiella sp. Selain
itu, kuman lain seperti Corynebacterium minuttisimum, Treponema pallidum,
Treponema perteneu, Mycobacterium tuberculosis, dan Mycobacterium leprae juga
dapat menyebabkan infeksi pada kulit. Infeksi bakteri pada kulit dapat
bermanifestasi sebagai ulkus, papula, plak, nodul, vesikel, bula, pustul, atau
abses (Perdoski, 2017).
Berikut adalah penyebab infeksi kulit beserta beberapa
jenis yang disebabkannya :
- Bakteri,
yang bisa menyebabkan bisul, abses, selulitis, dan kusta
- Virus,
yang dapat mengakibatkan cacar, kutil, dan campak
- Jamur,
yang dapat menimbulkan panu, kutu air, dan kurap
- Parasit,
yang bisa menyebabkan kudis (skabies), kutu rambut, dan cutaneous larva migrans
Infeksi bakteri kulit dan
jaringan lunak terdiri dari beberapa gejala klinis, etiologi, dan keperahan
yang bervariasi dari ringan sampai berat bahkan yang mengancam jiwa. Klasifikasi
infeksi pada kulit berdasarkan: kulit yang terlibat tanpa dan dengan komplikasi
pada keterlibatan area yang lebih dalam; progresivitasnya, yaitu infeksi akut
dan kronis; dan berdasarkan adanya nekrosis jaringan atau yang tidak didapatkan
nekrosis (Esposito et all., 2017)
Infeksi bakteri pada
kulit terbagi menjadi: (1) infeksi primer (pioderma), (2) infeksi sekunder, (3)
manifestasi kulit akibat penyakit bakteri sistemik, dan (4) kondisi reaktif
akibat infeksi pada lokasi yang jauh. Infeksi bakteri primer disebabkan oleh invasi
spesies tunggal bakteri patogen pada kulit normal. Impetigo, erisipelas, dan
furunkulosis merupakan contoh infeksi kulit primer. Sebaliknya, infeksi
sekunder terjadi pada lokasi yang telah mengalami kerusakan kulit. Walaupun
bakteri yang ada bukan merupakan penyebab kelainan kulit yang mendasari,
proliferasi bakteri dan invasi yang terjadi selanjutnya pada area sekitar dapat
memperburuk dan memperpanjang penyakit. Infeksi sekunder dapat terjadi jika
telah terjadi kerusakan integritas kulit, atau jika terjadi perubahan kondisi
imun lokal akibat penyakit kulit primer, diikuti infeksi bakteri. Berbeda
dengan infeksi primer, infeksi sekunder menunjukkan beberapa organisme pada
kultur, dan tidak jarang, sulit untuk menentukan bakteri mana yang merupakan penyebab
utama. Pada eksaserbasi dermatitis atopik pemberian antibiotik dapat mengurangi
jumlah S.aureus dan memberbaiki lesi dermatitis. Pada kasus infeksi sekunder,
morfologi penyakit kulit primer hanya mengalami sedikit perubahan, dan adanya
bakteri patogen yang menyebabkan eksaserbasi penyakit dapat diduga dari respons
yang kurang terhadap pengobatan atau adanya eksasebasi kondisi yang tidak dapat
dijelaskan (James et al., 2016).
Infeksi kulit primer
dengan derajat keparahan ringan hingga sedang dapat diterapi dengan perawatan
lokal, obat topikal, antibiotik oral, atau dengan kombinasi metode tersebut.
Infeksi luas pada kulit, dengan atau tanpa manifestasi sistemik, harus diterapi
secara agresif dengan antibiotik parenteral dengan dosis yang adekuat. Pada
host imunokompromi, terapi infeksi kulit secara parenteral hampir selalu
direkomendasikan Sejumlah faktor harus dipertimbangkan dalam pemberian
antibiotik yaitu: terapi oral dapat dibatasi oleh gangguan absorbsi dan
gastrointestinal; hipotensi dan penyakit kulit luas dapat menghambat jalur
intramuskular; dan obat yang dipilih kemungkinan hanya dapat diberikan melalui
rute spesifik. Profil metabolisme dari antibiotik yang diberikan harus selalu
diperhatikan untuk mencegah terjadinya kekurangan dosis atau akumulasi toksik
dalam bentuk malfungsi organ spesifik (Stevens DL, 2014).
Ada beberapa upaya yang
dapat kamu lakukan untuk mencegah infeksi kulit, antara lain:
- Menghindari
bersentuhan dengan pengidap infeksi kulit.
- Tidak
menggunakan barang-barang yang digunakan pengidap.
- Selalu menjaga kebersihan tubuh, terutama bagian tangan agar bakteri, virus, atau jamur tidak mudah menginfeksi tubuh
- Bila ada luka di kulit sebaiknya ditutupi dengan menggunakan perban agar kuman tidak masuk dan menyebabkan infeksi.
- Selalu
jaga kebersihan pakaian, kaos kaki, dan juga sepatu.
- Segera
ganti pakaian yang dikenakan jika terasa lembap karena berkeringat.
Pengobatan infeksi kulit tergantung pada penyebab yang mendasarinya. Beberapa infeksi kulit yang disebabkan oleh virus dapat membaik sendiri dalam hitungan hari atau minggu. Namun infeksi kulit lainnya memerlukan penanganan medis. Berikut pengobatan infeksi kulit berdasarkan penyebab nya
1. Pengobatan infeksi kulit yang disebabkan oleh bakteri
Dokter akan meresepkan antibiotic untuk mengatasi infeksi kulit bisa dalam bentuk salep, obat minum, atau obat suntik. Salah satu antibiotic nya yaitu Amoxicillin, Azithromycin, Cephalexin, dll.
2. Pengobatan infeksi kulit yang disebabkan oleh virus
Dokter akan meresepkan obat antivirus yang berguna mempercepat penyembuhan dan mengurangi risiko komplikasi dan penularan ke orang lain. Beberapa obat antivirus yang dokter resepkan yaitu Acylovir, Valacycovir, dan Famciclovir.
3. Pengobatan infeksi kulit yang disebabkan oleh jamur
Obat antijamur yang diberikan bisa dalam bentuk pil, sampo, krim, atau salep, tergantung pada bagian tubuh yang terinfeksi. Beberapa obat antijamur yang sering digunakan adalah Clotrimazole, Ketoconazole, Miconazole, Tioconazole, dan Terbinafine.
4. Pengobatan infeksi kulit yang disebabkan oleh parasit
Beberapa jenis obat antiparasit yang
diresepkan oleh dokter adalah Permethrin, Ivermectin, Albendazole,
Thiabendazole.
DAFTAR PUSTAKA
Oh, J. H., & Kwak, N. (2013). Generalization of Linear Discriminant Analysis Using Lp-norm. Pattern Recognition Letters, 34(6), 679-685.
Cipto H, Suriadiredja AS. Tumor kulit. Dalam: Menaldi SL, Bramono K, Indriatmi W, editor. Ilmu penyakit kulit dan kelamin. Edisi ketujuh. Jakarta: Badan Penerbit FKUI; 2016. h.262-276.
Iyatomi, H., Celebi, M. E., Schaefer, G., & Tanaka, M. (2011). Automated Color Calibration Method for Dermoscopy Images. Computerized Medical Imaging and Graphics, 35(2), 89–98.
Esposito S, Bassetti M, Concia E, De Simone G, De Rosa FG, Grossi P, et all. 2017. Diagnosis and Management of Skin and Soft Tissue Infections (SSTI) a Literature Review and Consensus Statement: An Update. J of Chemother. 1-18
James WD, Berger TG, and Elston DM. 2016. Bacterial infections. In: Andrews' Diseases of the skin. Clinical Dermatology. 12th Ed. Philadelphia: Elsevier. 254-5.
Perdoski. 2017. Pioderma. Panduan Praktik Klinis. Bagi Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin di Indonesia, Jakarta. 121-6.
Stevens DL, Bisno AL, Chambers HF. 2014. Practice Guidelines for the Diagnosis and Management of Skin and Soft Tissue Infections: 2014 Update by The Infectious Diseases Society of America. Clin Infect Dis. 59(2):e10-52.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar