Senin, 11 Desember 2023

INFEKSI KULIT





Tubuh manusia mempunyai berbagai cara untuk melakukan proteksi. Pertahanan pertama adalah barrier mekanik, seperti kulit yang menutupi permukaan tubuh. Kulit termasuk lapisan epidermis, stratum korneum, keratinosit dan lapisan basal bersifat sebagai barrier yang penting, mencegah mikroorganisme dn agen perusak potensial lain masuk ke dalam jaringan yang lebih dalam. Misalnya asam laktat dan substansi lain dalam keringat mengatur pH permukaan epidermis dalam suasana asam yang membantu mencegah kolonisasi oleh bakteri dan organisme lain.

Kulit terdiri dari tiga lapisan utama yaitu ; Epidermis (lapisan bagian luar tipis), Dermis (lapisan Tengah), Hipodermis (bagian paling dalam). Lapisan epidermis tebalnya relative, bervariasi dari 75-150, kecuali pada telapak tangan dan kaki lebih tebal. Terdiri dari stratum korneum dan lapisan malpighi, terdapat desmosome, melanosit dan lain-lain. Ketebalan dermis bervariasi di berbagai tempat tubuh, biasanya 1-4mm. Dermis merupakan jaringan metabolic aktif, mengandung kolagen, elastin, sel saraf, pembuluh darah dan jaringan limfatik. Juga terdapat kelenjer ekrin, apokrin, sebaseus di samping folikel rambut. Sedangkan hypodermis terletak di bawah dermis, terdiri dari jaringan ikat dan lemak (Oh, J. H., & Kwak, N., 2013)

Kulit merupakan organ tubuh terbesar pada manusia yang memilki fungsi proteksi. Pada manusia dewasa dengan berat 70kg, berat kulit mencapai 5kg dan melapisi seluruh permukaan tubuh seluas 2 m2 (McGrath, 2010: 3.1). Kulit memilki fungsi skin barrier fisik, perlindungan terhadap agen infeksius, termoregulasi, sensasi, proteksi terhadapa sinar ultraviolet (UV), serta regenerasi dan penyembuhan luka.

Infeksi kulit merupakan gangguan pada kulit yang salah satunya dapat disebabkan oleh bakteri, virus, jamur, atau parasite. Infeksi kulit umunya ditandai dengan bercak kemerahan, bentol, gatal-gatal, maupun nyeri. Infeksi kulit umunya terjadi Ketika kondisi kulit sedang tidak baik, misalnya kering, pecah-pecah, atau teruka. Kondisi ini juga lebih sering dialami oleh orang dengan daya tahan tubuh lemah, misalnya karena menderita diabetes atau AIDS, menjalani terapi atau menggunakan obat kortikosteroid dalam jangka panjang (Cipto, 2016).

Diagnosis infeksi kulit itu sendiri merupakan salah satu cabang dari bidang kesehatan yang digunakan untuk mendeteksi adanya kelainan pada kulit. Pada ciitra dermoscopy (kanker kulit), warna merupakan fitur dengan banyak informasi untuk mengenali kanker kulit yang diderita oleh pasien. Seiring perkembangan teknologi penelitian menunjukkan perlu adanya otomatisasi untuk mendeteksi kanker kulit melalui citra dermoscopy (Iyotami, Celebi, Schaefer, & Tanaka, 2011).

Infeksi bakteri pada kulit dapat disebabkan oleh kuman positif gram seperti Staphylococcus sp, dan Streptococcus sp., maupun kuman negatif gram seperti Pseudomonas aeruginosa, Proteus vulgaris, Proteus mirabilis, Escherichia coli dan Klebsiella sp. Selain itu, kuman lain seperti Corynebacterium minuttisimum, Treponema pallidum, Treponema perteneu, Mycobacterium tuberculosis, dan Mycobacterium leprae juga dapat menyebabkan infeksi pada kulit. Infeksi bakteri pada kulit dapat bermanifestasi sebagai ulkus, papula, plak, nodul, vesikel, bula, pustul, atau abses (Perdoski, 2017).

 

Berikut adalah penyebab infeksi kulit beserta beberapa jenis yang disebabkannya :

  •    Bakteri, yang bisa menyebabkan bisul, abses, selulitis, dan kusta
  •    Virus, yang dapat mengakibatkan cacar, kutil, dan campak
  •    Jamur, yang dapat menimbulkan panu, kutu air, dan kurap
  •   Parasit, yang bisa menyebabkan kudis (skabies), kutu rambut, dan cutaneous larva migrans

 

Infeksi bakteri kulit dan jaringan lunak terdiri dari beberapa gejala klinis, etiologi, dan keperahan yang bervariasi dari ringan sampai berat bahkan yang mengancam jiwa. Klasifikasi infeksi pada kulit berdasarkan: kulit yang terlibat tanpa dan dengan komplikasi pada keterlibatan area yang lebih dalam; progresivitasnya, yaitu infeksi akut dan kronis; dan berdasarkan adanya nekrosis jaringan atau yang tidak didapatkan nekrosis (Esposito et all., 2017)

Infeksi bakteri pada kulit terbagi menjadi: (1) infeksi primer (pioderma), (2) infeksi sekunder, (3) manifestasi kulit akibat penyakit bakteri sistemik, dan (4) kondisi reaktif akibat infeksi pada lokasi yang jauh. Infeksi bakteri primer disebabkan oleh invasi spesies tunggal bakteri patogen pada kulit normal. Impetigo, erisipelas, dan furunkulosis merupakan contoh infeksi kulit primer. Sebaliknya, infeksi sekunder terjadi pada lokasi yang telah mengalami kerusakan kulit. Walaupun bakteri yang ada bukan merupakan penyebab kelainan kulit yang mendasari, proliferasi bakteri dan invasi yang terjadi selanjutnya pada area sekitar dapat memperburuk dan memperpanjang penyakit. Infeksi sekunder dapat terjadi jika telah terjadi kerusakan integritas kulit, atau jika terjadi perubahan kondisi imun lokal akibat penyakit kulit primer, diikuti infeksi bakteri. Berbeda dengan infeksi primer, infeksi sekunder menunjukkan beberapa organisme pada kultur, dan tidak jarang, sulit untuk menentukan bakteri mana yang merupakan penyebab utama. Pada eksaserbasi dermatitis atopik pemberian antibiotik dapat mengurangi jumlah S.aureus dan memberbaiki lesi dermatitis. Pada kasus infeksi sekunder, morfologi penyakit kulit primer hanya mengalami sedikit perubahan, dan adanya bakteri patogen yang menyebabkan eksaserbasi penyakit dapat diduga dari respons yang kurang terhadap pengobatan atau adanya eksasebasi kondisi yang tidak dapat dijelaskan (James et al., 2016).

Infeksi kulit primer dengan derajat keparahan ringan hingga sedang dapat diterapi dengan perawatan lokal, obat topikal, antibiotik oral, atau dengan kombinasi metode tersebut. Infeksi luas pada kulit, dengan atau tanpa manifestasi sistemik, harus diterapi secara agresif dengan antibiotik parenteral dengan dosis yang adekuat. Pada host imunokompromi, terapi infeksi kulit secara parenteral hampir selalu direkomendasikan Sejumlah faktor harus dipertimbangkan dalam pemberian antibiotik yaitu: terapi oral dapat dibatasi oleh gangguan absorbsi dan gastrointestinal; hipotensi dan penyakit kulit luas dapat menghambat jalur intramuskular; dan obat yang dipilih kemungkinan hanya dapat diberikan melalui rute spesifik. Profil metabolisme dari antibiotik yang diberikan harus selalu diperhatikan untuk mencegah terjadinya kekurangan dosis atau akumulasi toksik dalam bentuk malfungsi organ spesifik (Stevens DL, 2014).

Ada beberapa upaya yang dapat kamu lakukan untuk mencegah infeksi kulit, antara lain:

  1.       Menghindari bersentuhan dengan pengidap infeksi kulit.
  2.       Tidak menggunakan barang-barang yang digunakan pengidap.
  3.      Selalu menjaga kebersihan tubuh, terutama bagian tangan agar bakteri, virus, atau jamur tidak mudah menginfeksi tubuh
  4.      Bila ada luka di kulit sebaiknya ditutupi dengan menggunakan perban agar kuman tidak masuk dan menyebabkan infeksi.
  5.      Selalu jaga kebersihan pakaian, kaos kaki, dan juga sepatu.
  6.      Segera ganti pakaian yang dikenakan jika terasa lembap karena berkeringat.

 

Pengobatan infeksi kulit tergantung pada penyebab yang mendasarinya. Beberapa infeksi kulit yang disebabkan oleh virus dapat membaik sendiri dalam hitungan hari atau minggu. Namun infeksi kulit lainnya memerlukan penanganan medis. Berikut pengobatan infeksi kulit berdasarkan penyebab nya 

1. Pengobatan infeksi kulit yang disebabkan oleh bakteri

            Dokter akan meresepkan antibiotic untuk mengatasi infeksi kulit bisa dalam bentuk salep, obat  minum, atau obat suntik. Salah satu antibiotic nya yaitu Amoxicillin, Azithromycin, Cephalexin, dll.

      2. Pengobatan infeksi kulit yang disebabkan oleh virus

            Dokter akan meresepkan obat antivirus yang berguna mempercepat penyembuhan dan                 mengurangi risiko komplikasi dan penularan ke orang lain. Beberapa obat antivirus yang dokter     resepkan yaitu Acylovir, Valacycovir, dan Famciclovir.

       3. Pengobatan infeksi kulit yang disebabkan oleh jamur

            Obat antijamur yang diberikan bisa dalam bentuk pil, sampo, krim, atau salep, tergantung pada bagian tubuh yang terinfeksi. Beberapa obat antijamur yang sering digunakan adalah Clotrimazole, Ketoconazole, Miconazole, Tioconazole, dan Terbinafine.

       4. Pengobatan infeksi kulit yang disebabkan oleh parasit

            Beberapa jenis obat antiparasit yang diresepkan oleh dokter adalah Permethrin, Ivermectin, Albendazole, Thiabendazole.


DAFTAR PUSTAKA

Oh, J. H., & Kwak, N. (2013). Generalization of Linear Discriminant Analysis Using Lp-norm. Pattern Recognition Letters, 34(6), 679-685.

Cipto H,  Suriadiredja AS. Tumor kulit. Dalam: Menaldi  SL, Bramono K, Indriatmi W, editor. Ilmu penyakit kulit dan kelamin. Edisi ketujuh. Jakarta: Badan Penerbit FKUI; 2016. h.262-276.

Iyatomi, H., Celebi, M. E., Schaefer, G., & Tanaka, M. (2011). Automated Color Calibration Method for Dermoscopy Images. Computerized Medical Imaging and Graphics, 35(2), 89–98.

Esposito S, Bassetti M, Concia E, De Simone G, De Rosa FG, Grossi P, et all. 2017. Diagnosis and Management of Skin and Soft Tissue Infections (SSTI) a Literature Review and Consensus Statement: An Update. J of Chemother. 1-18

James WD, Berger TG, and Elston DM. 2016. Bacterial infections. In: Andrews' Diseases of the skin. Clinical Dermatology. 12th Ed. Philadelphia: Elsevier. 254-5.

Perdoski. 2017. Pioderma. Panduan Praktik Klinis. Bagi Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin di Indonesia, Jakarta. 121-6.

Stevens DL, Bisno AL, Chambers HF. 2014. Practice Guidelines for the Diagnosis and Management of Skin and Soft Tissue Infections: 2014 Update by The Infectious Diseases Society of America. Clin Infect Dis. 59(2):e10-52.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

INFEKSI KULIT

Tubuh manusia mempunyai berbagai cara untuk melakukan proteksi. Pertahanan pertama adalah barrier mekanik, seperti kulit yang menutupi permu...